Jumat, 12 Maret 2010

ARAH PERGERAKAN BEM PERTANIAN KE DEPAN Oleh : DEFRI RAHMAN

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan mengandalkan kehidupannya dari pertanian. Melihat kondisi alam yang kaya akan sumber daya alam dan sangat subur tentu kita berharap para petani di Indonesia adalah petani yang serba berkecukupan secara ekonomis. Tetapi harapan tinggal harapan, karena ternyata sebagian besar petani Indonesia adalah petani miskin dengan penghasilan jauh di bawah UMR. Kenapa hal ini bisa terjadi tentu patut kita pikirkan bersama untuk mencari solusinya.
Beberapa hal yang berperan terhadap semakin terpuruknya kehidupan petani kita antara lain adalah semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian yang subur karena berubah fungsi menjadi areal pemukiman, perindustrian dan fasilitas umum; selain itu juga karena terjadinya lonjakan jumlah penduduk yang berakibat kepemilikan mereka terhadap lahan pertanian semakin berkurang. Selain hal-hal tersebut di atas kondisi cuaca global dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh perseorangan maupun kolektif juga ikut berperan. Kondisi yang tidak mendukung ini semakin diperparah oleh berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang sering tidak berpihak pada sektor pertanian ini. Seringkali para petani harus berjuang sendirian untuk memperoleh sarana produksi pertanian dan menjual hasil panennya. Kita sudah sering mendengar mengenai kelangkaan pupuk dan meskipun tersedia dengan harga yang semakin mahal, begitu juga dengan obat-obat pembasmi hama dan penyakit yang sangat mahal dan harus diakui bahwa sebagian besar masih harus diimpor, begitu memasuki masa panen petani harus mengalami kekecewaan lagi karena harga anjlok dan mereka harus membayar hutang ke para tengkulak atau para juragan yang memberi pinjaman untuk sarana produksi pertanian maupun untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Walhasil petani hanya membawa sedikit uang ke rumah bahkan kadang-kadang masih berhutang dengan jaminan rumah atau lahan mereka. Kejadian ini akan terus terjadi berulang-ulang seolah-olah menjadi lingkaran setan. Hal ini terjadi karena para petani hanya mampu bertani untuk memenuhi kehidupannya jadi mereka akan terus terikat pada lingkaran tersebut.
Peran pemerintah maupun pihak-pihak lain masih sangat diperlukan untuk meningkatkan kehidupan para petani. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melindungi para petani dan kegiatan pertanian melalui kebijakan-kebijakan yang memberikan kestabilan harga pada saat panen, mampu menyediakan sarana produksi (benih, pupuk dan pestisida) yang berkualitas dan terjangkau harganya. Selain itu masih diperlukan juga para tenaga lapang yang senantiasa memberikan pembinaan di tingkat petani karena seperti kita ketahui sebagian besar para petani merupakan petani tradisional yang belum mendapatkan sentuhan teknologi sama sekali. Tentunya akan lebih bijaksana lagi apabila pemerintah juga mulai berperan secara nyata dalam mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan sehingga pengembangan sektor pertanian tidak hanya mengejar target peningkatan kuantitas tetapi juga meningkatkan kualitas hasil yang ramah lingkungan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas yang disingkat dengan BEM FPUA merupakan wadah aspirasi dan perjuangan segenap mahasiswa Fakultas pertanian Universitas Andalas dalam mengemban tugas dan tanggungjawab cita-cita perjuangan Bangsa Indonesia dan oleh sebab itu masa depan Bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh eksistensi mahasiswa sebagai bagian kekuatan pemuda dalam segala dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita mengetahui bagamaina peranan mahasiswa dalam membawa perubahan bagi bangsa ini. Sejarah bangsa Indonesia, tidak dapat kita pisahkan dari sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia . Dimulai dari berdirinya boedi oetomo (20 Mei 1908), sumpah pemuda (28 Oktober 1928), kemerdekaan Bangsa Indonesia (1945), peristiwa malaria (15 Januari 1974), hingga gerakan 1998.
Masih adakah gerakan mahasiswa hari ini? Penulis teringat akan perkataan Bung Karno. Bung Karno mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri…”. Ini merupakan sebuah pesan besar yang ingin disampaikan oleh Bung Karno bahwa perjuangan rakyat Indonesia hari ini ternyata lebih berat, karena musuh yang kita hadapi adalah bagian dari bangsa sendiri. Yang berusaha mencabik-cabik NKRI, menguras semua asset negara demi kantong pribadi, penindasan terhadap orang-orang lemah, korupsi di semua bidang, yang mengakibatkan kebodohan tersebar dimana-mana karena sekolah berkualitas hanya mampu dibayar oleh orang-orang kaya. Kelaparan telah banyak membinasakan rakyat, meski kita hidup di lumbung pertanian. Rakyat Indonesia hari ini belum sejahtera karena ulah sebagian besar pemimpinnya yang terus mengeruk kekayaan Negara untuk kepuasan diri sendiri. Diam. Apakah hanya diam yang bisa kita lakukan wahai saudaraku?!!.
Arah pergerakan BEM Faperta Ke depan
Berdasarkan pengalaman penulis menjadi pengurus BEM FPUA lebih kurang 1,5 tahun, penulis merasakan pergerakan BEM FPUA belum dapat dirasakan oleh petani khususnya di Sumatera Barat. Selama ini penulis merasakan BEM FPUA hanya seperti menara gading yang sulit di jangkau oleh masyarakat. Bukan saatnya saudaraku kita hanya mampu berdiri di kampus saja, mementingkan keperluan pribadi semata. Saudaraku, ketika engkau mau mengetahui bagaimana susahnya nasib petani. Maka, cobalah untuk tinggal dengan mereka.
Insya Allah, Ketika siapapun yang di Amanah untuk menjadi gubernur nantinya. Arah pergerakan BEM FPUA kedepan akan lebih berpihak kepada mahasiswa dan petani.
Maka Penulis membagi 2 bagian arah pergerakan BEM Ke depan :
1. Internal ( Kampus)
BEM FPUA merupakan lokomotif pergerakan mahasiswa pertanian, pejuang aspirasi dan suara mahasiswa pertanian.

Untuk itu arah pergerakan BEM di Kampus yaitu :
a. Membangun Konsolidasi dan hubungan yang harmonis antar lembaga baik di dalam maupun di luar
b. Mengadvokasi dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa pertanian
c. Mewujudkan kemandirian BEM FPUA
d. Menumbuhkan Rasa memiliki BEM FPUA oleh segenap mahasiswa pertanian
e. Menjadikan BEM sebagai pengawas kebijakan birokrasi kampus.
f. Membangun Tradisi Ilmiah di Kampus
g. Mewujudkan BEM FPUA sebagai Lembaga Kemahasiswaan yang mampu menjadi wadah dalam mengali dan mengembangkan skill mahasiswa pertanian di bidang pertanian
2. Eksternal ( Luar Kampus)
BEM FPUA merupakan lokomotif pergerakan mahasiswa pertanian, nasib petani hari ini tak seharusnya di biarkan begitu saja. Sejarah telah mencatat perjuangan mahasiswa, apakah kita akan diam saja.
Untuk itu arah pergerakan BEM di Luar Kampus yaitu :
a. Memperjuangkan Hak-hak petani
b. Membangun kemitraan bersama petani
c. Mengawal kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian
Demikian 2 bagian arah pergerakan BEM FPUA kedepan. Diharapkan BEM FPUA ke depan menjadi lembaga kemahasiswaan yang mampu menghasilkan mahasiswa pertanian yang kritis, ilmiah, peduli, mandiri dan professional.
Kritis
Kritis akan kebijakan kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa. Kritis kepada kebijakan pemerintah yang merugikan petani.

Ilmiah
Ilmiah dalam berpikir, bertindak dan berbudaya.
Peduli
Peduli akan nasib mahasiswa dan petani.
Mandiri
Mandiri dalam pendanaan, karena selama ini pendanaan tergantung dengan anggaran operasional kemahasiswaan. Untuk itu, diharapkan BEM FPUA dapat mengelola keuangan dengan baik. Pengelolaan tersebut dilaksanakan dengan membuka usaha mandiri di bidang pertanian yang melibatkan pengurus dan mahasiswa pertanian. Sehingga, mampu meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam berwirausaha. Dan diharapkan BEM FPUA mampu melahirkan Enterpreneur khususnya di bidang pertanian.
Professional
Profesional maksudnya disini adalah dilihat dari manajemen organisasi.
Demikian makalah ini penulis buat, semoga ini dapat bermanfaat demi perbaikan BEM FPUA ke depan.
Hidup Mahasiswa !!!!
Hidup Petani !!!
Jaya Indonesiaku !!!

ARAH PERGERAKAN BEM PERTANIAN KE DEPAN Oleh : DEFRI RAHMAN

Sabtu, 06 Maret 2010

Tidak Seharusnya Petani Berjuang Sendiri

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan mengandalkan kehidupannya dari pertanian. Melihat kondisi alam yang kaya akan sumber daya alam dan sangat subur tentu kita berharap para petani di Indonesia adalah petani yang serba berkecukupan secara ekonomis. Tetapi harapan tinggal harapan, karena ternyata sebagian besar petani Indonesia adalah petani miskin dengan penghasilan jauh di bawah UMR. Kenapa hal ini bisa terjadi tentu patut kita pikirkan bersama untuk mencari solusinya.

Beberapa hal yang berperan terhadap semakin terpuruknya kehidupan petani kita antara lain adalah semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian yang subur karena berubah fungsi menjadi areal pemukiman, perindustrian dan fasilitas umum; selain itu juga karena terjadinya lonjakan jumlah penduduk yang berakibat kepemilikan mereka terhadap lahan pertanian semakin berkurang. Selain hal-hal tersebut di atas kondisi cuaca global dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh perseorangan maupun kolektif juga ikut berperan. Kondisi yang tidak mendukung ini semakin diperparah oleh berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang sering tidak berpihak pada sektor pertanian ini. Seringkali para petani harus berjuang sendirian untuk memperoleh sarana produksi pertanian dan menjual hasil panennya. Kita sudah sering mendengar mengenai kelangkaan pupuk dan meskipun tersedia dengan harga yang semakin mahal, begitu juga dengan obat-obat pembasmi hama dan penyakit yang sangat mahal dan harus diakui bahwa sebagian besar masih harus diimpor, begitu memasuki masa panen petani harus mengalami kekecewaan lagi karena harga anjlok dan mereka harus membayar hutang ke para tengkulak atau para juragan yang memberi pinjaman untuk sarana produksi pertanian maupun untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Walhasil petani hanya membawa sedikit uang ke rumah bahkan kadang-kadang masih berhutang dengan jaminan rumah atau lahan mereka. Kejadian ini akan terus terjadi berulang-ulang seolah-olah menjadi lingkaran setan. Hal ini terjadi karena para petani hanya mampu bertani untuk memenuhi kehidupannya jadi mereka akan terus terikat pada lingkaran tersebut.

Peran pemerintah maupun pihak-pihak lain masih sangat diperlukan untuk meningkatkan kehidupan para petani. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melindungi para petani dan kegiatan pertanian melalui kebijakan-kebijakan yang memberikan kestabilan harga pada saat panen, mampu menyediakan sarana produksi (benih, pupuk dan pestisida) yang berkualitas dan terjangkau harganya. Selain itu masih diperlukan juga para tenaga lapang yang senantiasa memberikan pembinaan di tingkat petani karena seperti kita ketahui sebagian besar para petani merupakan petani tradisional yang belum mendapatkan sentuhan teknologi sama sekali. Tentunya akan lebih bijaksana lagi apabila pemerintah juga mulai berperan secara nyata dalam mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan sehingga pengembangan sektor pertanian tidak hanya mengejar target peningkatan kuantitas tetapi juga meningkatkan kualitas hasil yang ramah lingkungan.

Saat ini pemerintah melalui Departemen Pertanian telah mencanangkan program go organik 2010. Diperlukan suatu kerja keras dan kesungguhan dari pemerintah agar program ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat sasaran dan tidak hanya bersifat slogan saja. Masalahnya adalah apakah para petani sudah siap dan mampu mengikuti program tersebut mengingat pemerintah sebelumnya selalu mengedepankan peningkatan produksi pertanian melalui aplikasi pupuk dan pestisida kimia secara terus-menerus. Dalam hal ini diperlukan kerja sama dan kerja keras dari berbagai pihak agar dapat merubah kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk beralih ke bahan-bahan ramah lingkungan. Tentu saja petani tidak bisa mengerjakan program besar ini sendirian, diperlukan kekonsistenan dari pemerintah sehingga petani-petani yang senantiasa hidup serba kekurangan ini tidak selalu jadi bulan-bulanan proyek penguasa. Selain pemerintah masyarakat melalui LSM juga dapat berperan serta untuk menyukseskan program ini.